KH. Abdul Muid, S.H.I.,: Menjalani Proses Kehidupan dengan Ikhlas, Mengabdi dengan Keyakinan
TANGERANG, iGlobal.id — Perjalanan hidup seseorang tidak selalu berjalan lurus sesuai rencana. Ada masa ketika seseorang menempuh pendidikan, mengabdikan diri kepada masyarakat, mencoba berbagai bidang pekerjaan, hingga akhirnya menemukan ruang pengabdian yang lebih luas. Dalam setiap proses itu, pengalaman menjadi guru yang membentuk cara pandang dan sikap seseorang terhadap kehidupan.
Prinsip tersebut tergambar dalam perbincangan bersama KH. Abdul Muid, S.H.I., Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, saat silaturahmi pada Minggu (11/10/2026).
Dalam pertemuan itu, KH. Abdul Muid berbagi cerita mengenai pengalaman hidup, pendidikan pesantren, perjalanan di dunia pendidikan, aktivitas organisasi, pengalaman berusaha, serta pandangannya tentang keikhlasan, keyakinan, dan tanggung jawab seseorang dalam menjalankan peran di tengah masyarakat.
Perbincangan tersebut bukan sekadar menceritakan perjalanan seorang tokoh. Ada pelajaran mengenai bagaimana seseorang menjalani proses, menghadapi perubahan, dan menjaga agar setiap langkah yang diambil tetap memiliki manfaat bagi orang lain.
Keikhlasan dan Keyakinan sebagai Pegangan
Bagi KH. Abdul Muid, kehidupan merupakan sebuah proses yang perlu dijalani dengan kesungguhan. Tidak semua hal dapat diperoleh secara instan, dan tidak setiap usaha langsung menghasilkan sesuatu sesuai harapan.
Ia menekankan pentingnya keikhlasan dan keyakinan dalam menjalankan aktivitas. Keikhlasan menjadi landasan agar seseorang tidak semata-mata bekerja demi pujian atau pengakuan, sedangkan keyakinan diperlukan agar seseorang mempunyai arah ketika mengambil keputusan.
Namun, keyakinan bukan berarti berjalan tanpa pertimbangan. Setiap langkah tetap perlu didasarkan pada pemikiran yang matang, kemampuan yang dimiliki, serta tujuan yang hendak dicapai.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat merencanakan dan mengupayakan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi, hasil akhirnya tidak selalu sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Karena itu, usaha perlu disertai kesabaran dan kesediaan menerima kenyataan.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa keikhlasan bukan alasan untuk berhenti berusaha. Sebaliknya, keikhlasan menjadi landasan untuk bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa menjadikan hasil atau pengakuan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Pendidikan Pesantren dan Perjalanan Menuntut Ilmu
Salah satu bagian penting dalam perjalanan KH. Abdul Muid adalah pengalaman menempuh pendidikan agama di lingkungan pesantren.
Dalam perbincangan tersebut, ia menceritakan pengalamannya belajar di Pondok Pesantren Ashabul Manah, Kp. Sampang, Ds. Susukan, Kec. Tirtayasa - Serang. Pendidikan di pesantren menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk pengalaman dan pemahamannya.
Perjalanan pendidikan itu tidak sepenuhnya berlangsung tanpa jeda. Setelah menyelesaikan jenjang Tsanawiyah, ia sempat berhenti belajar selama kurang lebih enam bulan. Namun, dorongan dari sang ayah membuatnya kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang Aliyah.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan pendidikan dapat menghadapi berbagai keadaan. Ada masa ketika seseorang harus berhenti sejenak, mempertimbangkan keadaan, kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
Dorongan keluarga juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Dukungan orang tua dapat memberikan semangat bagi seorang anak untuk meneruskan pendidikan dan tidak berhenti hanya karena menghadapi jeda atau kesulitan.
Dalam perbincangan, KH. Abdul Muid juga menceritakan pengalaman mengikuti pendidikan di perguruan tinggi. Ia menyebut kegiatan perkuliahan dengan pola pertemuan terbatas dalam satu pekan.
Pengalaman pendidikan itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebelum menjalani berbagai aktivitas di bidang pendidikan, organisasi, dan pengabdian masyarakat.
Dari Dunia Pendidikan Menuju Pengabdian Masyarakat
Pengalaman KH. Abdul Muid tidak hanya berkaitan dengan pendidikan yang ditempuh, tetapi juga dengan aktivitasnya dalam mendidik dan membina masyarakat.
Ia menceritakan pernah menjalani pekerjaan sebagai guru, termasuk guru agama. Selain itu, ia juga terlibat dalam pembinaan Pramuka dan kegiatan dakwah.
Berbagai peran tersebut mempunyai karakter dan tanggung jawab yang berbeda. Menjadi guru berkaitan dengan proses memberikan pengetahuan, membina Pramuka menuntut kemampuan mendampingi serta membentuk kedisiplinan, sedangkan kegiatan dakwah membutuhkan pendekatan yang dapat diterima oleh masyarakat.
Pengalaman menjalankan beberapa peran itu memperlihatkan bahwa pengabdian tidak selalu dilakukan melalui satu jalur. Seseorang dapat memberikan manfaat melalui pendidikan formal, pembinaan generasi muda, maupun kegiatan keagamaan.
Dalam perjalanan tersebut, KH. Abdul Muid juga pernah menjabat sebagai kepala sekolah SMA di salah satu yayasan di wilayah Kresek. Pengalaman memimpin lembaga pendidikan menambah tanggung jawab yang harus dijalankan, bukan hanya berkaitan dengan kegiatan belajar-mengajar, melainkan juga pengelolaan dan pembinaan lingkungan sekolah.
Pengalaman di dunia pendidikan menjadi salah satu sisi penting dalam perjalanan hidupnya. Pendidikan bukan hanya mengenai penyampaian materi, tetapi juga proses membangun karakter dan menyiapkan generasi agar mampu menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Belajar Membaca Peluang dari Dunia Usaha
Di luar kegiatan pendidikan dan organisasi, KH. Abdul Muid juga menceritakan pengalamannya menjalankan usaha.
Salah satu pengalaman yang dibagikannya berkaitan dengan perdagangan pakaian. Dalam menjalankan usaha tersebut, ia tidak hanya mengikuti pola belanja yang umum dilakukan, tetapi berupaya membaca kebutuhan pasar dan menentukan strategi berdasarkan momentum.
Ia mencontohkan bagaimana kebutuhan pakaian sekolah dapat menjadi peluang usaha pada periode tertentu. Persiapan dilakukan sebelum musim kebutuhan tersebut tiba, sehingga pelaku usaha memiliki waktu untuk memperhitungkan barang yang diperlukan.
Dalam pengalamannya, ia juga menyebut memilih membeli bahan pakaian, bukan semata-mata membeli produk yang sudah jadi. Pilihan tersebut menunjukkan adanya pertimbangan tersendiri dalam menentukan barang yang akan diperdagangkan.
Dari cerita itu, terlihat bahwa menjalankan usaha membutuhkan kemampuan membaca keadaan. Pelaku usaha perlu memperhatikan waktu, kebutuhan konsumen, dan cara memperoleh barang yang sesuai dengan perencanaan.
Pengalaman lainnya berkaitan dengan jual beli sepeda motor bekas melalui platform daring. Aktivitas tersebut menjadi bagian lain dari pengalamannya mencoba bidang usaha di luar pekerjaan pendidikan dan pengabdian organisasi.
Berbagai pengalaman itu memperlihatkan bahwa perjalanan seseorang tidak selalu terbatas pada satu profesi. Ada proses mencoba, menghitung risiko, membaca peluang, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan.
Meski demikian, tidak setiap usaha memberikan hasil yang sama. Karena itu, pengalaman menjalankan usaha juga dapat menjadi ruang belajar untuk mengenali kemampuan diri dan memahami keadaan yang sedang dihadapi.
Menjalani Organisasi dan Memahami Dinamika Kehidupan
Dalam perbincangan tersebut, KH. Abdul Muid turut menyinggung pengalamannya berorganisasi dan bersinggungan dengan dinamika sosial di masyarakat.
Organisasi menjadi salah satu ruang tempat seseorang belajar berkomunikasi, membangun hubungan, dan memahami kepentingan yang berbeda-beda. Di dalamnya, seseorang tidak hanya berhadapan dengan gagasan sendiri, tetapi juga perlu mendengarkan pandangan orang lain.
Dinamika semacam itu membutuhkan kesabaran dan kemampuan menempatkan diri. Tidak semua perbedaan harus berakhir menjadi pertentangan. Dalam banyak keadaan, komunikasi yang baik diperlukan agar persoalan dapat dipahami secara lebih jernih.
Pengalaman berorganisasi juga mengajarkan bahwa jabatan bukan semata-mata kedudukan. Jabatan membawa tanggung jawab yang perlu dijalankan dengan mempertimbangkan kepentingan bersama.
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, seseorang dapat memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda, tetapi tetap mempunyai kesempatan untuk memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Oleh karena itu, pengalaman organisasi seharusnya tidak hanya dipandang dari posisi yang pernah diduduki, tetapi juga dari proses belajar dan manfaat yang dapat diberikan kepada lingkungan.
Perjalanan Pengabdian di MUI Kecamatan Kresek
Salah satu bagian penting dalam perjalanan KH. Abdul Muid adalah keterlibatannya dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Kresek.
Dalam perbincangan tersebut, ia menceritakan bahwa sebelum menjabat sebagai ketua, dirinya telah menjalani beberapa periode sebagai sekretaris. Pengalaman itu menjadi bagian dari proses panjang sebelum memegang tanggung jawab kepemimpinan di tingkat kecamatan.
Perjalanan dari posisi sekretaris menuju ketua memperlihatkan bahwa tanggung jawab organisasi dapat berkembang seiring waktu. Pengalaman menjalankan tugas administratif dan koordinasi menjadi bekal dalam memahami kegiatan organisasi serta hubungan dengan berbagai pihak.
Sebagai organisasi yang menghimpun ulama dan unsur masyarakat Islam, MUI mempunyai ruang pengabdian yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan. Dalam menjalankan peran tersebut, komunikasi, koordinasi, serta kemampuan memahami keadaan masyarakat menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan.
Bagi seorang pengurus, menjalankan amanah organisasi tidak cukup hanya dengan menyandang jabatan. Tanggung jawab itu menuntut keterlibatan, kesediaan meluangkan waktu, serta kemampuan menjaga hubungan dengan masyarakat.
Pengalaman panjang KH. Abdul Muid di lingkungan MUI menjadi salah satu sisi yang menarik dari perjalanan pengabdiannya. Namun, untuk menggambarkan riwayat organisasi secara lengkap, tahun awal bergabung, periode jabatan sekretaris, masa kepemimpinan ketua, dan susunan kepengurusan perlu dicocokkan dengan data resmi MUI Kecamatan Kresek.
Pencatatan tersebut penting agar perjalanan seorang tokoh dapat terdokumentasi dengan baik dan menjadi referensi bagi masyarakat pada masa mendatang.
Tokoh Lokal dan Pentingnya Dokumentasi Sejarah
Dalam perbincangan itu, muncul pula pandangan mengenai pentingnya mendokumentasikan perjalanan tokoh-tokoh lokal.
Tokoh yang berkiprah di tingkat kecamatan atau kabupaten tidak selalu memperoleh perhatian yang sama dengan tokoh nasional. Padahal, pengalaman mereka dapat memuat banyak pelajaran tentang pendidikan, organisasi, kehidupan keagamaan, kegiatan ekonomi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Banyak pengalaman hidup hanya tersimpan dalam ingatan pribadi atau cerita dari satu orang kepada orang lainnya. Ketika tidak pernah ditulis, informasi tersebut berisiko hilang seiring berjalannya waktu.
Dokumentasi melalui wawancara dan karya jurnalistik dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat. Melalui tulisan, generasi berikutnya dapat mengetahui perjalanan seseorang, memahami konteks pengabdiannya, dan mempelajari nilai yang relevan dengan kehidupan saat ini.
Meski demikian, pendokumentasian tokoh tidak berarti semua cerita harus ditulis tanpa pemeriksaan. Nama, jabatan, tahun, lembaga pendidikan, dan peristiwa tertentu tetap perlu diverifikasi agar catatan sejarah yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan cara itu, tulisan tentang tokoh lokal tidak berhenti sebagai cerita penghormatan, tetapi juga menjadi dokumentasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Tidak Semua Jalan Harus Ditempuh dengan Cara yang Sama
Salah satu pesan yang mengemuka dalam perbincangan dengan KH. Abdul Muid adalah pentingnya memahami kemampuan diri ketika menjalani proses kehidupan.
Menurut pandangan yang ia sampaikan, seseorang perlu berusaha dan memberikan kesempatan kepada dirinya untuk berkembang. Namun, ketika suatu jalan ternyata tidak sesuai dengan kemampuan atau keadaan yang dihadapi, langkah tersebut perlu dievaluasi.
Evaluasi bukan berarti menyerah begitu saja. Seseorang dapat mempelajari kekurangan, memperbaiki cara bekerja, kemudian mencari jalan lain yang lebih sesuai.
Prinsip itu relevan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan, pekerjaan, usaha, dan organisasi. Setiap orang memiliki keadaan, kesempatan, serta kemampuan yang tidak selalu sama.
Karena itu, keberhasilan orang lain tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran untuk menilai perjalanan diri sendiri. Yang lebih penting adalah memahami tujuan, melakukan upaya yang masuk akal, dan terus belajar dari pengalaman.
Dalam perbincangan tersebut, muncul pula ungkapan mengenai pentingnya “menjemput takdir”. Ungkapan itu dapat dipahami sebagai dorongan agar seseorang tidak hanya menunggu keadaan berubah, melainkan tetap berikhtiar dan mengambil langkah yang dapat dilakukan.
Sikap tersebut perlu disertai kesadaran atas keterbatasan diri. Tidak semua persoalan bisa diselesaikan dengan kemampuan sendiri, dan tidak semua rencana harus dipaksakan ketika keadaan menunjukkan perlunya perubahan.
Menghadapi Penilaian Orang Lain dengan Bijak
KH. Abdul Muid juga menyinggung kenyataan bahwa pilihan seseorang sering kali mengundang komentar dari orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa dikritik ketika mengambil suatu keputusan, tetapi juga dapat dikritik ketika memilih keputusan yang berbeda. Situasi semacam itu menunjukkan bahwa penilaian masyarakat tidak selalu dapat dijadikan satu-satunya pedoman.
Ia mengangkat perumpamaan yang berkaitan dengan Luqmanul Hakim dan seekor keledai, sebuah kisah yang kerap digunakan untuk menggambarkan bagaimana orang dapat memberikan penilaian berbeda terhadap pilihan seseorang.
Pesan yang dapat dipetik bukanlah bahwa semua kritik harus diabaikan. Kritik yang disertai alasan dan fakta tetap perlu didengarkan. Namun, seseorang juga perlu membedakan masukan yang membangun dari komentar yang tidak memberikan jalan keluar.
Dalam mengambil keputusan, pertimbangan yang lebih penting adalah tujuan, manfaat, kemampuan, dan dampak dari tindakan tersebut.
Sikap demikian diperlukan agar seseorang tidak mudah berubah arah hanya karena ingin menyenangkan semua orang. Pada saat yang sama, keyakinan terhadap pilihan sendiri tetap harus disertai keterbukaan untuk memperbaiki kesalahan.
Pesan untuk Generasi Muda dan Insan Pers
Perbincangan dengan KH. Abdul Muid juga menyentuh tanggung jawab generasi muda dan wartawan dalam kehidupan bermasyarakat.
Bagi generasi muda, pengalaman hidup dapat menjadi pelajaran bahwa perjalanan menuju suatu tujuan membutuhkan proses. Pendidikan, pekerjaan, dan pengabdian tidak selalu memberikan hasil secara langsung. Karena itu, kesungguhan perlu disertai kemampuan mengevaluasi diri dan menyesuaikan langkah dengan keadaan.
Sementara itu, bagi insan pers, pesan yang mengemuka berkaitan dengan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi.
Wartawan tidak seharusnya hanya berorientasi pada upaya menjatuhkan seseorang atau memperbesar persoalan. Pemberitaan perlu bertolak dari fakta, dilakukan melalui proses verifikasi, dan memperhatikan kepentingan publik.
Mengungkap persoalan tetap menjadi bagian penting dari kerja jurnalistik. Namun, pengungkapan itu harus disertai ketelitian, keberimbangan, dan kesempatan bagi pihak terkait untuk memberikan penjelasan.
Persoalan yang diberitakan juga perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat. Informasi yang tidak lengkap dapat menimbulkan kesalahpahaman, sedangkan informasi yang telah diperiksa dapat membantu masyarakat memahami persoalan secara lebih jernih.
Prinsip tersebut sejalan dengan pentingnya menjalankan pekerjaan secara ikhlas dan yakin. Keikhlasan tidak berarti mengabaikan aturan, sedangkan keyakinan tidak berarti menganggap diri sendiri selalu benar.
Bagi wartawan, keduanya perlu berjalan bersama tanggung jawab profesional. Niat yang baik harus diwujudkan melalui kerja yang benar, sementara keyakinan terhadap suatu informasi harus didukung bukti yang dapat diperiksa.
Dengan demikian, karya jurnalistik tidak hanya menjadi sarana menyampaikan kabar, tetapi juga dapat membantu masyarakat memahami masalah dan mendorong penyelesaian yang lebih baik.
Menjaga Jejak Pengabdian agar Tidak Hilang
Pertemuan dengan KH. Abdul Muid memberikan gambaran tentang perjalanan seorang tokoh lokal yang bersinggungan dengan pendidikan, kegiatan keagamaan, organisasi, dan usaha.
Tidak seluruh perjalanan hidupnya dapat dirangkum hanya melalui satu kali pertemuan. Masih ada bagian-bagian yang membutuhkan pendalaman, terutama mengenai kronologi pendidikan, riwayat jabatan organisasi, serta tahun-tahun penting dalam perjalanan pengabdiannya.
Namun, perbincangan tersebut memperlihatkan bahwa kisah seorang tokoh dapat dibaca bukan hanya melalui jabatan yang pernah diemban, melainkan juga melalui proses yang dijalani dan pandangan yang dibagikan kepada masyarakat.
Keikhlasan, keyakinan, kesediaan belajar, dan keberanian mengevaluasi diri menjadi nilai yang mengemuka dari perbincangan tersebut.
Solihin
