Belajar dari SWAM, Dosen Pulang Kampung IPB Dorong Pengelolaan Sampah dan Urban Farming di Linggabuana
BOGOR, iGlobal.id – Tim Dosen Pulang Kampung IPB University mengajak warga Cluster Linggabuana, Pakuan Regency, Kelurahan Margajaya, Kota Bogor, mempelajari langsung pengelolaan sampah berbasis komunitas melalui studi banding ke School of Waste Management (SWAM), Kampung Gardu Dalam, Margajaya.
Kegiatan ini menjadi tahap awal program “Integrasi Pengelolaan Sampah dan Urban Farming untuk Penguatan Resiliensi Keluarga di Kelurahan Margajaya, Bogor” yang akan berlangsung sekitar lima bulan.
Program diketuai Prof. Lailan Syaufina dengan anggota Prof. Arief Sabdo Yuwono, Prof. Illah Sailah, Prof. A. Faroby Falatehan, dan Iis Purnamawati, MSi.
Studi banding melibatkan berbagai unsur masyarakat Cluster Linggabuana, mulai dari Posyandu sebagai mitra program, tim kebersihan, penanggung jawab kebersihan, Ketua RW 07, pengurus Masjid Raudhatul Jannah, hingga tokoh masyarakat.
Kunjungan ke SWAM diarahkan agar warga memperoleh gambaran langsung mengenai pengelolaan sampah yang telah berjalan di tingkat komunitas sebelum model serupa dikembangkan di lingkungan Cluster Linggabuana.
Pendiri SWAM, Prof. Dr. Arief Sabdo Yuwono, menjelaskan perjalanan pengembangan SWAM, berbagai tantangan yang dihadapi, serta sistem pengelolaan sampah yang diterapkan.
Peserta kemudian melihat langsung proses pemilahan sampah sejak dari rumah, fasilitas penampungan, hingga pengelolaan sampah pada tingkat komunitas.
Pemilahan dari sumber menjadi bagian penting dalam sistem tersebut. Sampah yang telah dipilah lebih mudah dikelola, sementara sebagian material masih dapat dimanfaatkan kembali sehingga tidak seluruhnya berakhir sebagai limbah.
Peserta juga mempelajari pengelolaan sampah dapur yang diterapkan di SWAM. Sampah organik diolah melalui sistem pengomposan aerob dengan dukungan larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai agen biodegradasi.
Berdasarkan penjelasan dalam kegiatan, proses biodegradasi berlangsung sekitar dua bulan setelah pemasukan sampah terakhir. Fasilitas pengolahan menggunakan bak berbahan hebel yang dilengkapi lubang aerasi dan dirancang untuk meminimalkan bau maupun gangguan lingkungan.
Setiap bak memiliki volume efektif sekitar 1,4 meter kubik.
Model tersebut menjadi salah satu referensi Tim Dosen Pulang Kampung IPB dalam mengembangkan pengelolaan sampah rumah tangga di Cluster Linggabuana.
Sampah organik, khususnya sampah dapur, diarahkan agar tidak hanya dibuang, tetapi diolah menjadi media tanam yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung urban farming serta berpotensi memberikan nilai tambah.
Integrasi pengelolaan sampah dan urban farming diharapkan mampu mengurangi volume sampah rumah tangga, menjaga kebersihan lingkungan, menyediakan media tanam, serta mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih produktif.
Program ini juga menempatkan partisipasi masyarakat sebagai unsur utama. Pengelolaan sampah berbasis komunitas membutuhkan keterlibatan warga sejak dari rumah, didukung pengurus lingkungan, tim kebersihan, tokoh masyarakat, dan mitra program.
Studi banding ke SWAM menjadi pijakan awal sebelum program memasuki tahap penerapan dan pendampingan bersama masyarakat Cluster Linggabuana.
Melalui pendekatan tersebut, warga diharapkan tidak lagi melihat sampah semata sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dikelola dan dimanfaatkan kembali.
Dari tingkat permukiman, pengelolaan sampah yang tertata dan urban farming diharapkan tumbuh menjadi gerakan bersama untuk membangun lingkungan yang lebih bersih, produktif, dan berkelanjutan.
