Puisi Anak Binaan LPKA Sentuh Hati Tinawati Andra Soni pada Peringatan Hari Anak Nasional
iGlobal.ID || TANGERANG, - Suasana di Aula Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Tangerang, Kota Tangerang, Senin (27/7/2026), mendadak hening. Seorang anak binaan berinisial AP (17) berdiri di depan ruangan, lalu membacakan puisi tentang penyesalan, salah jalan, dan kerinduan kepada orang tua. Setiap bait yang keluar dari bibir remaja itu seolah menjadi suara hati puluhan anak yang tengah menjalani masa pembinaan.
Tak sedikit mata yang berkaca-kaca. Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Banten Tinawati Andra Soni, Ketua TP PKK Kota Tangerang Masturoh Sachrudin, dan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Banten Lili, tampak larut dalam suasana. Beberapa di antaranya tak kuasa menahan air mata.
Kunjungan kerja tersebut merupakan rangkaian peringatan Hari Anak Nasional 2026. Namun lebih dari sekadar seremoni, pertemuan itu menjadi ruang dialog antara pemerintah dengan anak-anak yang sedang berjuang memperbaiki masa depannya.
“Sejujurnya kami sedih kalau sudah berurusan dengan anak. Kami adalah ibu, tentunya perasaan kami terbawa,” ujar Tinawati.
Ia menegaskan, kehadiran pemerintah di LPKA bukan hanya untuk memastikan pemenuhan hak-hak anak, tetapi juga memberikan keyakinan bahwa masa depan mereka belum berakhir.
Harapan itu terlihat saat sesi dialog berlangsung. Beberapa anak binaan mengangkat tangan dan menyampaikan pertanyaan yang sederhana, namun begitu dalam maknanya.
“Kalau kami nanti kembali ke masyarakat, apakah kami masih bisa bekerja? Apakah kami bisa sukses? Apakah kami bisa menjadi ASN?”
Pertanyaan-pertanyaan itu, menurut Tinawati, menunjukkan besarnya keinginan mereka untuk berubah dan kembali diterima di tengah masyarakat.
“Itu artinya mereka memiliki keinginan besar untuk berubah, berdaya, dan diterima kembali. Kami ingin memastikan mereka tetap memiliki kesempatan yang sama,” katanya.
Tinawati menjelaskan, anak-anak yang telah menyelesaikan masa pembinaan tetap berhak mengakses berbagai program pemerintah, mulai dari pelatihan keterampilan, ketenagakerjaan, pendidikan hingga pemberdayaan usaha. Menurutnya, tidak ada hak anak yang hilang hanya karena mereka pernah melakukan kesalahan.
“Semua mendapatkan kesempatan yang sama. Kalian mungkin pernah salah jalan, tetapi tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang tidak pernah berbuat salah. Ini bukan akhir, bukan kiamat bagi kalian,” tuturnya.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk tidak hanya menyerahkan tanggung jawab pembinaan kepada keluarga. Menurutnya, pemerintah dan masyarakat memiliki peran penting agar anak-anak tersebut mampu bangkit dan tidak kembali terjerumus.
“Anak-anak perlu pengawasan bukan hanya dari keluarga, tetapi juga dari pemerintah. TP PKK sebagai mitra strategis pemerintah terus berupaya melakukan pembinaan mulai dari tingkat keluarga agar anak-anak memiliki masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Di sela kegiatan, rombongan juga melakukan kunjungan virtual melalui video call dengan keluarga salah satu warga binaan dari Cikande, Kabupaten Serang. Tinawati berbincang dengan Putri Amelia, kakak kandung Yuda, seorang anak binaan yang sedang menjalani pembinaan di LPKA.
Dalam percakapan itu, Tinawati menyampaikan kabar bahwa Yuda berada dalam kondisi sehat dan menjalani aktivitas pembinaan dengan baik. Ucapan sederhana tersebut menjadi pengobat rindu bagi keluarga yang belum dapat bertemu secara langsung.(*adpim/el*)
